Agama Mewajibkan Melawan Pemerintah Dzolim


“Agama adalah nasehat, untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, dan orang-orang awam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas, menunjukkan kepada kita agar senantiasa berusaha sekuat untuk di jalur kebaikan dan menolak apa saja yang merusak, baik dalam diri kita sendiri ataupun yang berada di luar diri kita. Nasehat di sini, ditujukan kepada siapa saja dan dalam keadaan apapun.

Memberikan nasehat bukan saja dengan sindiran, mulut, tulisan, namun sebisa mungkin dilakukan dengan tindakan nyata. Seseorang yang berani menasehati melalui sikap yang tegas dan terukur, maka tergolong orang yang memiliki iman yang kuat, keimanan yang mustinya ada dalam setiap muslim, sebagaimana tersebut dalam hadits Rasulullah Saw:

“Siapa saja yang menyaksikan kemunkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.” (HR. Muslim)

Menyampaikan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah, apabila itu dilakukan oleh rakyat terhadap penguasa, maka rakyat tersebut termasuk seorang mujahid yang berhak mendapatkan kenikmatan surga. Karena, rakyat yang demikian telah menjalankan apa yang menjadi tujuan agama, Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Menasehati pemerintah yang dzolim, rakyat boleh menggunakan cara-cara yang halus serta boleh juga menggunakan cara-cara yang buruk selama tidak merugikan orang-orang yang tidak bersalah. Hal ini karena, rakyat yang berada di bawah pemerintah yang dzolim tergolong pihak yang teraniaya, sehingga termasuk pihak yang boleh membela dirinya. Ini sebagaimana firman Allah Swt dalam Qs. Annisa (4): 148:

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang KECUALI OLEH ORANG YANG DIANIAYA. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Tatkala rakyat menasehati secara lisan ataupun tertulis terhadap pemerintah dzolim, namun pemerintah acuh saja atau tidak menjalankannya, maka rakyat boleh dan dalam keadaan tertentu bahkan wajib untuk melakukan perlawanan. Rakyat harus bertindak. Apabila seorang rakyat meninggal dunia saat melawan pemerintah yang dzolim tersebut, maka kematiannya tergolong sebagai syuhada (orang yang mati syahid) karena melawan kemungkaran. Perlawanan terhadap penguasa dzolim, juga pernah dilakukan oleh seorang tauladan, syuhada Hamzah bin Abdul Muthallib, sebagaimana yang tersebut dalam hadits:

“Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang dzolim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. al-Hakim).

Ciri-ciri pemerintah dzolim di antaranya adalah memiliki sikap munafik, lebih memprioritaskan kesejahteraan pengusaha dan pejabat daripada rakyat jelata, menjadikan hukum sebagai permainan penguasa bukan untuk mewujudkan keadilan, dan lain-lainnya. Sikap munafik, menilik hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, itu ada tiga: pertama, apabila berbicara, ia berbohong. Kedua, apabila berjanji, ia ingkar. Ketiga, apabila dipercaya, ia berkhianat.

Setelah mengetahui kewajiban kita sebagai umat Islam untuk melawan pemerintah yang dzolim, kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mustinya reaksi kita terhadap pemerintah Indonesia sekarang ini, pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono, yang mana banyak dari tokoh agama mengatakan bahwasanya pemerintah SBY ini tukang bohong? Bagaimana reaksi kita di pemerintahan SBY, dengan mengetahui adanya kalangan rakyat jelata yang mendapatkan keadilan tidak berimbang dari kalangan menengah/ atas? Bagaimana mustinya reaksi kita terhadap pemerintah SBY ini, dengan melihat ada banyaknya masyarakat yang tidak sejahtera namun pada sisi lain terdapat kalangan yang sangat kaya seperti Aburizal Bakri dan termasuk presiden Indonesia sendiri, SBY?

***

Semua pertanyaan-pertanyaan di atas, bukanlah karena ketidaktahuan akan rasa syukur, melainkan justru sebagai upaya mewujudkan rasa syukur yang hakiki dengan semoga bisa menjadi renungan kita bersama untuk kemudian kita tahu dan berani mengambil tindakan yang semestinya dengan senantiasa mengharap ridho Ilahi.  Billahittaufik wal hidayah. Shodaqallahul adzim. Wallahu a’lam bishowab.

***

Tatkala suatu wilayah terdapat kalangan yang sangat miskin, namun di dalamnya juga ada sebagian kalangan yang sangat kaya, pastilah di wilayah tersebut —baik itu tingkat RT, RW, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi, atau Negara— ada KETIDAK BERESAN!

***

Sepatah kalimat terakhir dari saya:

MUSTAHIL TERWUJUD PERSATUAN, TANPA ADA KESEJAHTERAAN

Salam gembel jalanan, Wahyu NH. Aly

Orang Islam Menggugat Pemerintah SBY


Potret Indonesia sebagai Negara yang berazazkan demokrasi Pancasila, yang di dalamnya sangat sesuai dengan nilai-nilai keislaman, selama pemerintahan SBY yang saya rasakan masih terlalu jauh dari jalur demokrasi yang semestinya. Pelbagai peristiwa yang menodai demokrasi pancasila secara beruntun, muncul dan terus berdatangan tanpa terlihat ada penyelesaian secara tuntas. Belum lagi hal-hal pembusukan demokrasi di Indonesia yang belum terusut dan belum terpublis lainnya.

Problematika kemiskinan merupakan salah satu dari banyaknya kasus yang cukup terlihat ternoda di rezim SBY-Budiono ini. Jika menilik kemiskinan melalui UUD 45, pasal 34 ayat 1, secara tegas dinyatakan bahwasanya fakir miskin dan anak-anak yang terlantar itu dipelihara oleh negara (sumber: 1). Hal ini tentunya seirama dengan Islam, apabila kemiskinan menjadi tanggung jawab kolektif (fardhu kifayah) bagi kalangan yang mampu, tatkala pemerintah tak kuasa menanganinya. Hal ini, Islam memandang apabila di suatu wilayah terdapat kalangan yang sangat miskin namun di dalamnya terdapat orang yang cukup kaya, maka jelas di wilayah tersebut ada ketidakberesan, dan keadaan yang demikian menjadi tanggungjawab penguasa atau pihak yang memiliki kewenangan mengurusi rakyat.

Kemiskinan dengan standar yang mengenaskan dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 5 ribu rupiah untuk Indonesia secara umum, disebutkan jumlah penduduk miskin lebih dari 31 juta penduduk (13.3%). (sumber: 2). Tanpa terlepas dari sejauhmana validitas BPS ini sehingga banyak kalangan yang meragukannya —semisal ketidakpercayaan dari Lawang Ngajeng dan Majlis Mahabah Budaya atas BPS ini sehingga memintanya agar BPS mau transparan terhadap publik— tentunya selain sangat memalukan jika disandingkan dengan standar kategori miskin menurut PBB, juga mengiris perih nurani melihat realitas negeri ini terdapat kalangan yang sangat kaya semisal Aburizal Bakri, Arifin Panigoro, termasuk SBY dan Budiono sendiri yang sangat-sangat jauh dari kriteria cukup atau menengah di antara masyarakat miskin yang melimpah di alas kaki pertiwi ini.

Perlindungan terhadap rakyat dari pemerintah SBY juga dirasa sangat lemah, jika tidak boleh dikata apabila pemerintah SBY ini meresahkan rakyat. Ini mengingat, SBY sebagai kepala negara yang semestinya melindungi rakyatnya justru membuat gelisah terhadap yang diurusnya seperti pernyataannya saat jumpa pers kala itu akan ancaman teroris terhadap dirinya, yang pada sisi lain (ancaman tersebut) masih belum dibuktikan akan kebenarannya. Sikap SBY sebagai kepala negara memandang peran dan fungsinya ini menurut hemat saya, sudah memasuki pelanggaran atas UUD 45 Pasal 28I, ayat 4 yang berbunyi, “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.” (sumber: 4)

Mengurai benang kusut perjalanan pemerintah SBY selama initidaklah mudah, cukup sulit karena begitu banyaknya. Sebagai orang Islam, saya menggugat pemerintah SBY untuk serius menjalankan demokrasi pancasila, dan jika lebay dalam hal ini sehingga janji-janji politiknya tidak terpenuhi dan demokrasi pancasila tidak terjalankan secara totalitas, maka saya menyerukan agar harta Anda dan harta para pejabat pemerintah yang lainnya , sebagiannya diserahkan untuk rakyat miskin sebagai bukti niat baik melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara yang baik, dan saya yakin langkah demikian tidak akan membuat kalian miskin!

 

________________________________

 

Hanya suara kecil yang tak berpeluru….

Salam revolusi damai…..

***

Salam gembel jalanan, Wahyu NH. Aly

Berdosa Menyalahkan Rakyat Yang Sakit Hati Terhadap Pemerintah SBY


Seseorang saat di zona nyaman, acapkali melupakan pelbagai problematika di luar dirinya dan lebih asyik dengan apa yang sedang dinikmatinya. Mirisnya, ada pula seseorang yang berada di dalam kenyamanan memandang orang lain yang sedang kesusahan sebagai benalu bagi dirinya. Lebih parahnya, hingga ada yang mengata-ngatai kalangan yang sedang kesusahan sebagai perusuh.  Fenomena ini, sangatlah biadab jika terus dibudayakan. Mustinya kalangan yang sudah mapan mendukung dan membantu merealisasikan keinginan dan usaha baik dari kalangan yang sedang meraih hak-hak hidupnya yang tidak merugikan orang lain, Fenomena ini tampak semarak di era SBY ini….

Keadaan yang tidak menyehatkan di antara kalangan yang sudah merasa nyaman di era kepemimpinan SBY ini, misalnya, dengan menyalahkan kalangan di luarnya yang sedang menuntut pemenuhan hak-haknya terhadap pemerintah SBY. Sebagian kalangan yang sudah merasa tentram ada di antara mereka yang terang-terangan mengatakan bodoh, kurang ajar, tidak tahu rasa terimakasih, tidak bisa bersyukur dengan yang diperolehnya, dan lain-lainnya, terhadap kalangan yang selalu menyuarakan penuntutan karena hak-haknya yang terkerdili oleh pemerintah atau dalam upaya membantu mengabarkan fakta hak saudaranya yang belum terpenuhi. Sekali lagi, sangatlah miris gambaran yang demikian….

Menyalahkan keadaan dan usaha kalangan yang hak-haknya belum terpenuhi jika itu dari pihak yang sama sebagai rakyat disebut kekejian dan jika itu dari pihak pemerintah dikatakan sebagai sebuah kedzoliman. Tidak ada alasan dengan cara apapun untuk menyalahkan orang yang sedang mengupayakan untuk mengambil hak-haknya sendiri ataupun orang yang sedang membantu saudaranya dalam mendapatkan hak-haknya. Pihak yang sama sebagai rakyat, tatkala mengetahui ada saudara serakyat mustinya membantunya bukannya menyalahkan, dan terlebih lagi membela pemerintah, yang nota bene pemerintah lebih sejahtera dan memiliki kekuatan daripada rakyat yang sedang berusaha meraih hak-haknya dan tak berpeluru. Sedangkan pemerintah sendiri, melihat kenyataan yang seperti itu, jangankan menyalahkannnya, dengan membiarkannya tanpa memenuhinya pun itu sebuah kedzoliman.

Dengan demikian, menurut hemat saya, menyalahkan seseorang yang sedang berupaya mendapatkan haknya adalah termasuk kejahatan kemanusiaan, dan saya percaya akan mendapatkan dosa besar dari Tuhan YME. Termasuk di dalamnya, dengan menyalahkan rakyat yang menyuarakan penuntutan terhadap pemerintah SBY atas janji-janjinya dan hak-haknya yang dirasa belum terpenuhi. Allahu A’lam. Shodaqallahul Adzim….

_______________________________________________________

Mari bersama-sama membangun bangsa….

Mari bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang masih membutuhkan….

Marilah bersama-sama membuka mata, telinga, hati, pikiran, tenaga, dan materi guna mewujudkan kebahagiaan bersama….

***

Tatkala di suatu wilayah terdapat orang yang sangat miskin, namun di dalamnya juga ada orang yang sangat kaya, pastilah di wilayah tersebut ada ketidakberesan. Bagaimana dengan negara ini?

*

SALAM REVOLUSI DAMAI

Wahyu NH. Aly

(Gembel Jalanan)

Pahala Besar Bagi Penghujat Pemerintah SBY


Membaca judul di atas, mungkin membuat sebagian pembaca bertanya-tanya, baik pertanyaan itu muncul karena adanya pemahaman yang apa adanya pada judul di atas, atau barangkali timbul pertanyaan karena mengira judulnya memiliki makna metafora yang dalam praduganya penulis akan menerangkannya, maupun pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan pelbagai perbedaan alasan lainnya. Semua pertanyaan yang ada, hemat penulis karena adanya perbedaan sudut-sudut yang dinilainya pertama kalinya saat membaca judul disamping karena faktor adanya perbedaan latar belakang pembaca sendiri. Perbedaan sudut diawalkali membaca judul misalnya, karena melihat penulisnya terlebih dahulu, karena pengaruh fenomena media massa dalam menyajikan potret perpolitikan yang sedang hangat di negeri ini,  atau yang lainnya. Namun demikian, beragamnya pertanyaan tatkala awalkali membaca judul di atas merupakan suatu yang niscaya dan semuanya pantas saya hormati. Dari sini juga, izinkanlah saya menyampaikan materi judul di atas perihal kepemerintahan SBY dengan latarbelakang saya yang tentunya sangat tidak tertutup kemungkinan berbeda dengan para pembaca….

__________________________________

Bismillahirrahmanirrahim….


Sistem demokrasi Pancasila di Indonesia, memosisikan rakyat sebagai “penguasa atau majikan” yang sebenarnya, sedangkan pemerintah adalah pembantu rakyat yang musti patuh dan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Jika tidak, maka rakyat berhak memecat dan bahkan memberikan “hadiah dan/atau pelajaran” terhadap pemerintah sesuai besar kecilnya atau bentuk-bentuknya akan kelebihan dan kekurangan pelayanan dari pemerintah. Hemat penulis, inilah dasar yang mustinya dipakai dalam meneropong pemerintah sebelum memasuki cabang aturan main selanjutnya dari demokrasi Pancasila.

Sedikit mengulang, rakyat sebagai majikan dari pemerintah mempunyai bukan saja kekuasaan, namun yang lebih penting adalah memiliki hak-hak yang seharusnya dipenuhi secara tuntas oleh pemerintahnya. Adapun keterbatasan-keterbatasan yang ada dari pemerintah bukanlah alasan utama dalam membenarkan ketidakberdayaannya dalam memenuhi hak-hak rakyat yang dikarenakan hal tersebut merupakan suatu kenyataan yang sudah maklum, sehingga tidaklah selayaknya itu dijadikan alasan pembenaran terhadap ketidakmaksimalan -apalagi kesalahan tersengaja seperti pengingkaran janji- dalam melayani rakyat.

Selain itu, ini juga melihat bahwasanya pemerintah memiliki tanggungjawab yang bersifat sangat mengikat dan musti dilaksanakan. Kewajiban pemerintah bukanlah sekedar tugas karena dimintai amanah oleh rakyatnya, akan tetapi itu suatu hutang yang musti dilunasi. Hal ini karena, pemerintah meminta sendiri untuk mengurusi rakyat, dan bahkan merayunya agar diberinya tugas kepemerintahan. Menggunakan ungkapan yang lebih mudah dipahami, bahwasanya meminta sebuah tugas itu tidaklah sama dengan dimintai tugas.

Hak rakyat ini, semestinya dihargai dan dikawal oleh semua pihak. Tidak boleh menghalang-halangi hak rakyat dalam pemenuhannya, dengan apapun caranya. Tanpa terlepas dari mana seseorang memandang hasil kerja pemerintah, jikalau kemudian merasa haknya sudah terpenuhi, tidaklah lantas menyalahkan saudara serakyat lainnya yang sedang menuntut haknya atau saudara serakyat lainnya yang sedang membela saudarana yang hak-haknya belum terpenuhi oleh pemerintah. Sekali lagi, kalangan yang hak-haknya telah terpenuhi hanya memiliki suara terimakasih atau pujian terhadap pemerintah yang sebatas hanya apa-apa yang sudah diperolehnya, bukan membungkam apalagi menyalahkan saudara serakyat lainnya yang sedang mencacimaki pemerintah karena merasa hak-haknya atau janji-janji yang diberikan pemerintah belum dipenuhinya.

Walhasil, saya sangat percaya apabila orang-orang yang menghujat pemerintah atas ketidakpemenuhan janji-janjinya dan tanggungjawab lainnya, jika diniati untuk membantu saudaranya dan kemaslahatan yang besar yang berdasarkan meraih ridho Ilahi, itu akan diberi pahala yang besar oleh Tuhan YME. Sebaliknya, mereka yang menyalahkan apalagi mencaci-maki para penuntut hak atau pembela hak saudaranya, itu sangat tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan dosa yang sangat besar dari Tuhan YME karena telah ikut campur dalam wilayah yang tidak dibenarkan. Saya kira sementara ini dulu, dan sebagai tambahan bahwasanya yang disebut rakyat adalah orang-orang yang tidak masuk secara struktural di kepemerintahan.

Sebagai penutup, ulasan ringan di atas yang berisi tentang hak rakyat dalam memaksa pemerintah untuk tidak saja melayaninya dengan sebaik-baiknya melainkan lebih dari itu yaitu dalam penuntutan hutang atau janji-janji pemerintah -yang di dalamnya rakyat memiliki hak untuk tidak saja mencacimakinya namun juga boleh mengadilinya dengan menyeret kejalanan dengan mempermalukannya secara fisik atau yang lebih dari itu, jikalau pemerintah benar-benar mendzoliminya- tentulah penyampaian ringan dan ringkas ini juga termasuk dalam menyikapi kepemerintahan SBY dan fenomena realitas rakyat yang diurusnya. Ini sebagai mana rekaman janji-janji SBY kala itu disandingkan dengan realitas kepemimpinannya hingga kini….

____________________________________

Shodaqollohul ‘Adzim….

Allahu A’lam….

***

Mari bersama-sama membangun bangsa….

Mari bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang masih membutuhkan….

Marilah bersama-sama membuka mata, telinga, hati, pikiran, tenaga, dan materi guna mewujudkan kebahagiaan bersama….

***

Tatkala di suatu wilayah terdapat orang yang sangat miskin, namun di dalamnya juga ada orang yang sangat kaya, pastilah di wilayah tersebut ada ketidakberesan. Bagaimana dengan negara ini?

*

Sepatah kalimat dari saya:

__________________________________________________________________

MUSTAHIL TERWUJUD PERSATUAN, TANPA ADA KESEJAHTERAAN…!!!!

__________________________________________________________________

 

SALAM REVOLUSI DAMAI

Wahyu NH. Aly

(Gembel Jalanan)

Syair Buat Bunda


METAMORFOSIS CINTA

METAMORFOSIS CINTA

Oleh:

WAHYU. NH. AL_ALY

_______

Kau mengharapkan kehadiranku….
Bibirmu siang-malam basah oleh lantunan doa seraya terus menjagaku dalam perutmu….
Tiada keluh kesah yang mengalir….
Kau lenyapkan rasa cape dan bahagiamu….
Demi aku….
***

Meski kini kau melihatku, tidak sebagaimana yang kau harapkan….
Kau menerimaku apa adanya….
Bahkan kau melupakan semua harapanmu kala itu….
Kau pun bahagia menjagaku lagi….
Demi aku….
***

Begitu melihatku….
Kini kau memiliki harapan baru….
Kau terus percaya dengan harapan….
Yang kau sendiri tak tahu apa sebenarnya makhluk “harapan” itu….
Demi aku….
***

Lika-liku hidupmu dengan kehadiranku….
Kau tampak tak menyesali….
Semua rasa sakit yang kuberikan padamu, kau terima dengan lapang dada….
Kekecewaanmu atas harapan itu pedaku, kau hiraukan….
Demi aku….
***

Kau melumasi minyak penenang padaku, kala aku terjatuh….
Kau dorong aku hingga uratmu menegang kencang, kala aku berhenti….
Pori-porimu melebar, menunjukkan kekhawatiran tatkala aku tersesat….
Bijaksanamu tiada kering mengiringiku….
Demi aku….
***

Kau kuat dalam tubuhmu yang rapuh….
Kau tersenyum dalam menahan perih serpihan kaca kehidupan yang menusuk tubuhmu….
Kau memelukku dalam teriknya masalah yang kau terima….
Kau berikan selimutmu padaku dalam dinginnya hembusan angin disekitarmu….
Demi aku….
***

Kau lepaskan diriku demi kebahagianku tatkala aku dewasa….
Kau tak meminta sedikitpun upah atas jasamu….
Kebahagianku seolah sudah menjadi imbalan yang lebih bagimu….
Kaupun senantiasa terbuka menerima keluh kesahku, kapanpun….
Demi aku….
***

Bunda, maafkan anakmu ini yang tak mampu menghentikan raharu atas kasih sayangmu….
Hingga kurangkai syair ini untukmu….
Bunda, maafkan anakmu ini yang tak kuasa menahan air mata ini tatkala merangkai kata-kata ini….
Hingga tubuhku basah terguyur….
Kini aku tak tahu demi siapa….
***

Bunda, maafkan anakmu ini yang belum tahu bagaimana harus berterimakasih atasmu….
Meski kutahu kau tak mengharapkannya….
Bunda, maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan apapun untukmu….
Meski kutahu kau tak memerlukannya….
Kini aku tahu, semua yang kulakukan hanyalah untukku sendiri….
***

Bunda, dalam keegoisanku….
Dalam perangai burukku….
Bunda, dalam rajutan kasih sayangmu….
Dalam mahligai cintamu yang tak pernah usang….
Kulantunkan syair ini untukmu, meski kutahu ini kan kembali untukku….
***

Yang tenggelam dalam kasih-sayangmu….
Yang sedang berenang dalam samudra burukku, menuju pantai cintamu….
Anakmu…, WAHYU NH. AL_ALY

_________________________

 

Salam dari gembel jalanan, Wahyu NH Aly

Selamat Datang Kematian!


Hampir tiap hari mendengar kematian. Hampir tiap hari melihat kematian. Hampir tiap hari pula, kematian terlupakan. Padahal, dimana saja, kapan saja, kematian bisa saja datang tanpa ada pemberitahuan. Betapa kematian adalah sesuatu yang sangat misterius, meskipun berkali-kali dan selamanya akan selalu hadir dalam kehidupan.

Kematian datang kepada siapapun, tak peduli anak kecil-orang tua ataupun laki-perempuan. Kematian datang tanpa malu-malu. Kematian datang tanpa peduli kondisi sepi ataupun ramai. Namun kematian datang tak bisa disangka-sangka.

Kenyatannya pula, kecelakaan yang dalam hitungan detik siap membawa nyawaku telah beberapa kali aku lalui. Sakit yang kukira ‘kan membuatku meregang nyawa juga pernah aku lewati. Semua itu, aku sungguh tak menduga, rupanya aku masih di sini, berdiri tanpa tahu kapan sebenarnya kematian akan mendatangiku.

Karena itu, mengapa hidupku harus kusia-siakan hanya untuk menyenangkan diriku sendiri. Karena itu, apalah arti sebongkah jasad bergerak ini, apabila tak kugunakan membantu jasad-jasad bergerak lainnya yang membutuhkan diri ini. Karena itu, apa yang perlu kutakuti dengan kehidupan ini.

Selamat datang kematian, karena aku tak tahu kepastian kamu datang, maka kumencoba mempersiapkan menyambutmu kapan saja, di mana saja. Selamat datang kematian, kusambut dengan diri penuh kedermawanan. Selamat datang kematian, kusambut dengan diri penuh amal. Selamat datang kematian, kusambut dengan diri tanpa rasa takut. Selamat datang kematian, kusambut dengan penuh senyuman.

 

___________________

Selamat datang kematian

Salam persaudaraan

Salam kedermawanan

Salam beramal

 

Wahyu NH. Al_Aly

(Gembel Jalanan)

___________________________________________

 

KECANTIKAN / KETAMPANAN MASA DEPAN

 

RUMAH MASA DEPAN

Pluralisme Ala Wahyu NH Al_Aly 2: “Antar Agama Saling Menyesatkan, Mungkinkah Toleransi Terwujud?”


Wahyu NH Al_Aly

PERTANYAAN DARI SEORANG TEMAN:

Menilai bahwasanya setiap agama tidak mengajarkan kekerasan terhadap agama yang lain, lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan konsep kesesatan dalam masing-masing agama, apakah itu bukan termasuk ajaran agama agar memusuhi agama yang lain? Atau dengan pertanyaan lain yang memiliki maksud sama, bukankah agama pada dasarnya memang bersifat memecah belah, karena setiap agama mengajarkan bahwa ia yang paling benar dan satu satunya jalan menuju keselamatan sedangkan agama yang lain adalah sesat, maka bagaimana mungkin seseorang yang beragama bisa dengan tulus menghayati perbedaan dan toleransi bila masih memiliki pandangan demikian?

JAWABAN SAYA:

Perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan pasti. Perbedaan bukan kemudian harus disikapi dengan “menyalahkan” apalagi “membenci” dalam taraf kemanusiaan.

A. Perbedaan antara “persatuan” (toleransi/ pluralisme) dan “penyatuan” (singularisme)

- Persatuan yaitu, ada perbedaan (beragam) akan tetapi ada suatu hal yang menjadikan untuk bertemu, dengan tetap tidak merubah warna masing-masing. Misalnya, mengakui dan membiarkan adanya perbedaan setiap masing-masing agama. Tidak boleh dengan adanya perdedaan itu kemudian “memaksa” atau mengintervensi penganut agama lain untuk mengikuti agamanya, baik dengan cara yang lembut apalagi kasar. Begitu juga, tidak boleh mengatakan bahwasanya semua agama adalah sama hanya beda jalan, karena itu sama halnya dengan membuat “agama” atau ajaran baru, yang padahal sudah nyata apabila setiap agama itu berbeda. Yang artinya, pluralisme adalah hanya mencapai pada dataran meyakini eksistensi (keberadaan) masing-masing agama dengan berprinsip saling menghormati (toleran)

Contoh lain menggunakan analogi manusia, meskipun di antara manusia ada beragam ras (ras yang berbeda-beda), namun mereka mengakui keberadaan perbedaan itu dan melihat ras-ras itu adalah sama-sama manusia, dan manusia adalah bersaudara.

-Penyatuan yaitu, mengakui ada perbedaan itu, akan tetapi tidak menerima perbedaan itu sehingga berusaha untuk disamakan. Misalnya, ada salah satu penganut agama tertentu, kemudian memaksa orang lain mengikuti agamanya, baik dengan cara merayu (apapun rayuannya) apalagi dengan cara memaksa yang menggunakan kekerasan. Juga, menganggap atau mengatakan semua agama adalah sama hanya beda jalan, tergolong membuat “ajaran” baru yang pada dasarnya setiap agama meyakini perbedaan, yang dengan demikian, perrnyataan bahwa semua agama sama hanya beda jalan disebut juga singularisme bukan pluralisme, karena ada unsur merayu atau memaksa semua agama itu sama.

Melaui analogi manusia, misalnya, yaitu dengan menghidupkan satu ras dan membasmi ras yang lain. Inilah yang disebut dengan penyatuan (singularisme/ rasisme).

B. Menelisik Perbedaan Melalui Analogi Manusia

Sebelum membahas mengenai pertanyaan di atas, mengenai perbedaan dalam masing-masing agama, di sini saya terlebih dulu menganalogikan dengan perbedaan secara fisik manusia. Dalam hal ini, saya bukan bermaksud bertele-tele, melainkan untuk menambah wacana lain, sehingga dalam diskusi ini tidak saja “monoton” tema, tapi juga ada hal lain yang menunjang atau menambah atau memperkaya gaya pemaparan.

1. Setiap manusia memiliki ras yang berbeda-beda. Perbedaan itu semua, tidak bisa disatukan, yang dalam artian rasnya hanya satu. Akan tetapi, hanya bisa ada di wilayah persatuan saja, dengan berasaskan bahwa mereka semua (ras-ras yang berbeda), adalah sama-sama manusia. Dengan demikian, adanya “kesepakatan” menolak rasisme, itu hanya di wilayah kesamaan kemanusiaan, bukan menyamaratakan (membuat satu) ras.

(kata kunci di no 1 ini adalah, “persatuan” dan “satu”)

2. Seandainya ada, perkawinan antar ras yang berbeda, itu juga bukan menyatukan ras, melainkan persatuan ras yang akan melahirkan kemungkinan: seorang anak mengikuti ibunya, seorang anak mengikuti (cenderung) ras ayahnya, atau bisa saja membentuk ras baru, yaitu percampuran antara ayah dengan ibu. Ras yang baru ini, tidaklah sama dengan ras ayah maupun ras ibu.

(kata kunci di no. 2 adalah, munculnya “ras baru”)

B. Konsep Kesesatan dalam Agama-Agama, Toleransi?

Perbedaan antar agama adalah sesuatu yang nyata (ada). Apabila disatukan, maka akan melahirkan agama baru. Misalnya membuat pernyataan bahwasanya semua agama benar, itu sama saja melahirkan (membuat) agama (ajaran) baru (singularisme).

1. Perbedaan sesat dan jahat

Sesat dan jahat sangatlah berbeda. Sesat itu bersifat pribadi yang tidak ada kaitannya dengan orang lain. Akan tetapi, sesat bisa menjadi perbuatan jahat apabila seseorang yang tersesat kemudian mempengaruhi apalagi memaksa orang lain untuk melakukan apa yangh dilakukan dirinya, padahal orang yang diajak tersebut tidak tahu maksud dan tujuannya. Sedangkan jahat bersifat internal dan eksternal. Maksudnya, ada dua hal di dalamnya yaitu, dirinya sendiri dan pihak lain yang menjadi korbannya. (untuk sementara penjelasannya ini dulu)

2. Membaca perbedaan antara sesat dan jahat melalui analogi

Saya dan Anda belum pernah ke Jakarta. Saya dan Anda memiliki buku panduan yang berbeda untuk ke Jakarta. Melalui buku panduan yang saya miliki Jakarta itu terletak di aran Barat, akan tetapi di dalam buku panduan Anda Jakarta di arah Timur. Saya mempercayai buku panduan saya dengan alasan menurut saya sangat meyakinkan, begitu pula Anda mempercayai buku panduan Anda. Tentunya, saya akan menyalahkan Anda, dan begitujuga sebaliknya Anda menyalahkan saya. Saya akan menganggap Anda tersesat, dan pula Anda akan menganggap sayalah yang akan tersesat. Selama saya tidak memaksa Anda mengikuti apa yang saya percayai, begitu pula selama anda tidak memaksa saya mempercayai Anda, maka saya dan Anda tidaklah jahat. Akan tetapi, jika saya memaksa kepercayaan saya kepada anda, atau sebaliknya, maka pemaksaan itulah yang disebut jahat. Dengan demikian, saya dan Anda harus saling menghormati kepercayaan masang-masing ini, dengan segenap membawa konsekwensi yang ada nantinya.

Dengan perumpamaan ini, juga bisa dilanjutkan, bahwasanya keselamatan yang hanya di satu buku panduan itu. Maksudnya, dengan saya menganggap pilihan Anda adalah sesat, atau begitu juga sebaliknya, Anda akan mengatakan saya sesat karena saya memilih arah Jakarta itu ke Barat, maka menggunakan kata yang berbeda saya menganggap Anda akan tidak selamat dan begitu pula sebaliknya saya menurut Anda sebagaimana buku panduan Anda kalau saya akan tidak selamat. Dengan demikian, kata sesat memiliki arti tidak selamat.

3. Memahami konsep sesat dalam agama-agama

Melalui analogi di atas, maka bisa dipahami bahwasanya agama adalah panduan, tinggal sejauh mana penganut masing-masing agama itu meyakininya. Ini sebagaimana antara saya dengan Anda sebagai sahabat saya, yang berbeda agama. Saya menganggap Anda akan tersesat dengan agama Anda, dan juga sebaliknya Anda menganggap saya tersesat sebagaimana Anda meyakini agama Anda. Selama masih dalam “anggapan”, maka baik saya maupun Anda tidaklah melakukan kejahatan, akan tetapi ketika sudah memasuki pemaksaan agar Anda mengikuti saya atau saya dipaksa mengikuti Anda, maka “pemaksaan” inilah yang disebut dengan kejahatan. Walhasil, kejahatan adalah bersifat langsung dan hanya berkaitan pada makhluk Tuhan, sedangkan tersesat dalam kacamata agama lebih kepada yang bersifat “future” dan pribadi.

4. Bagaimana terwujud toleransi antar umat beragama dengan konsep saling menyesatkan ini?

Sebagaimana dalam analogi di atas, ketika saya menganggap Anda sebagai teman saya akan tersesat, saya sebagai seorang sahabat tentu akan merasa sedih dan merasa akan kehilangan, akan tetapi itu sudah menjadi pilihan Anda. Begitu juga sebaliknya, ketika Anda menganggap saya akan tersesat, sebagai seorang sahabat Anda pastinya akan kehilangan saya dan merasa sangat sedih, akan tetapi lagi-lagi Anda tidak boleh memaksa saya karena saya dalam hal ini memiliki pilihan yang tidfak boleh dicampuri.

Dengan mengetahui hal demikian, baik saya ataupun Anda, ketika masih berkumpul di sini, di dunia ini, maka akan terasa sangat dekat, mengingat nanti tidak akan bertemu. Rasa sedih ketika menganggap sahabatnya akan tersesat inilah yang akan melahirkan rasa saling menyayangi dan memiliki selama masih hidup. Selain itu dari perbedaan “panduan”-nya atau ajarannya atau agamanya, maka akan ada keterbukaan dan diskusi tentang sesuatu yang membedakan itu.

C. Perlukah Agama di Dalam Kehidupan Manusia?

1. Agama selama ini adalah mengajarkan (menunjukkan) keselamatan. Dengan ajaran ini, maka akan melahirkan rasa saling memiliki dan mengasihi selama di Dunia. Selain agama, saya belum pernah menemukan ada ajaran yang demikian. Maka, dengan adanya ajaran seperti itu, agama sangat dibutuhkan sebagai “tali” agar saling menyayangi dan mengasihi sesama manusia yang ‘menurutnya” akan tidak selamat. Dengan demikian, agama sangatlah dibutuhkan.

2. Adapun konflik yang terjadi antar agama, sepanjang sejarah, adalah faktor politik. Sayangnya, unsur politis tersebut tidak dipelajari oleh kalangan penganut agama, melainkan isu peperangan itulah yang dijadikan tolak ukur untuk memahami agama lain. Maka, bukan kesalahan agama, akan tetapi kesalahan manusia dalam merusak agama sekaligus merusak tatatan kemanusiaan. Dengan demikian, yang seharusnya dibuang adalah unsur politis yang negatif, bukan agamanya.

Dari sini, toleransi adalah suatu yang niscaya dan tidak sulit untuk dilakukan bukan?

___________________________________

Salam toleransi total….

Salam revolusi damai….

Wahyu NH. Al_Aly

(Gembel Jalanan)

Jendela Pesantren: “Kasih Manusia dengan Segala Keterbatasan (Nya)”


Oleh:

Wahyu NH. Al_Aly

__________________

Kasih manusia dengan segala keterbatasan (NYA)
Duduk bersila seorang laki-laki berjubah dan berserban (NYA)
Ketika menemui tamunya di ruang tamu tanpa kursi (NYA)
Tatapan tamunya yang penuh harap, harap kasih untuk anak yang di sebelah (NYA).
Untuk selanjutnya dia titipkan pada (NYA).

***

Kasih mandiri dan agama diharapkan untuk diberikan kepada anak (NYA).
Karena dia merasa tidak sanggup melakukanya kepada anak kandung satu-satun (NYA).
Karena dia merasa percaya dititipkannya anaknya kepada seorang laki-laki berjubah di depan (NYA).
Ia yang banyak dipercayai oleh ratusan, bahkan ribuan orang yang sama (NYA).
Mereka orang yang sama-sama menitipkan anaknya kepada (NYA).

***

Kasih manusia dengan segala keterbatasan (NYA).
Siang, pagi, sore, dan malam ia melakukan (NYA).
Ilmu agama dan kemandirian ia tanamkan kepada anak tamu (NYA).
Ia berharap, semua sesuai harapan tamu-tamu (NYA).

***

Kasih manusia dengan segala keterbatasan (NYA).
Ia tak berharap harga untuk diri (NYA).
Ia hanya berharap bisa memberikan apa yang dimilikinya sesuai kemampuan (NYA).
Agar anak-anak tamunya bisa melihat dan mengisi dunia (NYA).
Namun apalah daya, ia memiliki keterbatasan sebagai manusia (NYA).

***

Kasih manusia dengan segala keterbatasan (NYA).
Sehingga hanya secuil waktu yang hanya bisa diberikannya, yaitu waktu yang tidak bisa diberikan oleh orang tua anak tamu (NYA).
Sehingga hanya secuil tenaga yang hanya bisa diberikannya, yaitu tenaga yang tidak bisa diberikan oleh orang tua anak tamu (NYA).
Sehingga hanya secuil ilmu yang hanya bisa diberikannya, yaitu ilmu yang tidak bisa diberikan oleh orang tua anak tamunya yang menitipkan dan mempercayai (NYA).

***

Kasih manusia dengan segala keterbatasan (NYA).
Benar-benar terbatas hati manusia (NYA).
Sehingga cacian sebagai balasan (NYA).
Balasan atas secuil tenaga, waktu, dan ilmu yang telah diberikan (NYA).
Balasan atas titipan dan kepercayaan (nya).

***

Kasih manusia dengan segala keterbatasan (NYA).
Benar-benar terbatas hati manusia (NYA).
Dengan merasa lebih bisa dari pada (NYA).
Karena telah melewati tempat (NYA).
Tempat dimana dititipkan (NYA).
Sehingga merasa perlu untuk menghina (NYA).
Sebagai balasan atas seluruh keterbatasan yang telah diberikan (NYA).
Atas ikrar kedewasaanya untuk tiada perlu lagi dititipkan apalagi percaya pada (NYA).

_________________________

 

Salam, gembel jalan….

Fatwa MUI: Haram Grasi/ Remisi Koruptor


LAWANG NGAJENG

LAWANG NGAJENG

Pukul 24. 00 tadi, MUI kembali membuat geger. MUI mengeluarkan fatwa. Tapi fatwa MUI kali ini, layak diacungi dua jempol sekaligus. MUI sebagai wakil pencerahan untuk masyarakat, tadi malam mengeluarkan fatwa haram diberikannya grasi/ remisi kepada koruptor. MUI mengeluarkan fatwa ini, dengan alasan atas permintaan, atau lebih tepatnya desakan, dari rakyat Indonesia. Dikeluarkannya fatwa haram grasi/ remisi untuk koruptor ini bersifat umum dan selamanya. Akan tetapi, tadi malam MUI secara khusus juga menyinggung akan keharamannya memberikan grasi/ remisi kepada tiga penjahat besar kasus korupsi yaitu Auliya Pohan, Syaukani, dan Artalyta.

Tadi malam, MUI memberikan pernyataan, bahwasanya korupsi dalam Islam hukumnya sudah jelas, haram. Perilaku korupsi, menurut MUI di antaranya adalah: pertama, ghulul, yaitu perbuatan curang dan penipuan yang secara langsung merugikan keuangan negara, baik dilakukan seara personal, kolektif, ataukah institusi. Firman Allah tegas melarangnya sebagaimana tersebut dalam Alqur’an, surat Al-Imran, ayat 161. Kedua, ikhtilas, yaitu disebutkan juga sebagai penyalahgunaan jabatan, baik untuk membantu pihak di luar dirinya ataupun untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain, sebagaimana dikatakan dalam Qs. al-Anfal: 27. Ketiga, rishwah, yaitu suap. Suap adalah pemberian sesuatu (baik materi maupun imateri seperti janji diberikan jabatan, pekerjaan, atau lainnya) yang bertujuan sebagai pemikat atau pemukau atau penarik atau pendorong atau perangsang (personal, kolektif, maupun institusi di pemerintahan) berdasarkan maksud tidak baik, semisal meloloskan tindak pelanggaran hukum yang dapat merugikan masyarakat, kecurangan publik, pelanggaran atas kewajibannya. Dengan demikian, unsur dalam suap-menyuap adalah adanya kesepakatan timbal-balik antara penyuap dengan penerima suap. Hal ini tegas dilarang sebagaimana tersebut dalam hadits Rasulullah Saw: “Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap” (HR. Tirmidzi). Keempat, al-ishrof/ at-tabdzir. al-Ishrof/ at-tabdzir yang dimaksud di sini adalah berlebih-lebih dalam menggunakan fasilitas negara, baik jabatan maupun kekayaan negara, seperti memperkaya diri, atau memperkaya orang lain, melalui fasilitas atau harta negara.

MUI memberikan penjelasan, bahwasanya korupsi dalam Islam termasuk kejahatan berlapis, sehingga harus dihukum berat mengikuti undang-undang yang ada. Kejahatan dalam korupsi adalah, 1) tindak pengkhianatan rakyat (amanah/ janji), 2) penyelewengan sistem, 3) penipuan, 4) pemerasan baik disadari ataukah tidak, 5) perampokan harta rakyat. Dampak yang ditimbulkan dari korupsi sangat besar dengan melihat kejahatan yang terkandung di dalamnya, seperti meningkatnya kuantitas kemiskinan, ketertindasan. Melihat unsur kejahatan yang ada di dalam korupsi, memang sudah semestinya di hukum mati. Akan tetapi, mengingat undang-undang di Indonesia masih begitu berat melaksanakan hukum mati untuk koruptor, sehingga tetap menghormati hukum yang berlaku seraya terus mendesak agar hukuman mati secepatnya diberlakukan untuk koruptor. Hukuman mati kasus korupsi memang terkesan tidak manusiawi, tapi perilaku korupsi itu sendiri sangat-sangat tidak manusiawi. Dengan ungkapan lain, hukuman mati satu orang tidak dapat menggantikan akibat kejahatannya atas berjuta-juta orang. Dengan demikian, apabila hukuman mati bagi koruptor dianggap tidak manusiawi, maka lebih tidak manusiawi lagi jika tidak menghukum mati koruptor atas orang banyak. Tentunya selain hukuman mati, semua hartanya juga harus dikembalikan kepada rakyat.

Dengan wajahnya yang tampak letih dan kondisi tubuhnya yang kurang sehat, dengan penuh semangat, ketua MUI juga memberikan penjelasan bahwasanya perilaku korupsi berbeda dengan kafir. Ketua MUI mengatakan apabila kafir lebih kepada ketuhanan atau bersifat vertical, sedangkan korupsi bersifat horizontal. Kafir bukan termasuk kejahatan terhadap manusia, sedangkan korupsi adalah perilaku kejahatan kepada orang banyak. Dengan demikian, kasus korupsi tidak dapat bertobat kepada Tuhan, sebelum terlebih dahulu mempertanggungjawabkan kejahatannya kepada rakyat….

Hukum Grasi/ Remisi Koruptor

Keputusan MUI, yang disampaikan melalui ketuanya, mengenai grasi/ remisi kepada terpidana kasus korupsi, hukumnya haram. Pembahasan yang menghasilkan fatwa haram atas grasi/ remisi untuk terpidana kasus korupsi, yang digelar oleh MUI ini berlangsung alot, sekitar 2 jam. Menurut ketua MUI, keputusan fatwa ini melewati penggodokan yang serius, mendalam dan meluas, semisal melihat kandungan kejahatan dalam korupsi, dampak terhadap masyarakat luas, dan disorot melalui Alquran, Alhadits serta mekanisme lainnya yang berkaitan dengan keputusan hukum Islam.

Secara hukum positif (hukum Negara), grasi/ remisi memang boleh diberikan kepada terpidana kasus korupsi . Akan tetapi melihat kasus korupsi adalah berkaitan dengan orang banyak, secara etika seorang kepala Negara sebelum mengeluarkan grasi/ remisi untuk koruptor, seharusnya meminta izin terlebih dahulu terhadap rakyat semisal menggunakan surat pilihan yang dibagikan kepada rakyat. Akan tetapi, apabila hal itu dirasa berat dan membutuhkan dana yang dapat merugikan Negara, maka mau tidak mau grasi tidak boleh diberikan kepada koruptor. Apabila akan menggunakan alasan kemanusiaan, maka seorang kepala Negara seharusnya terlebih dahulu memberikan “grasi/ remisi” untuk rakyat yang dalam penjara kemiskinan/ ketertindasan oleh para koruptor. Dikarenakan, alasan kemanusiaan satu orang tidak dapat menggantikan kemanusiaan dalam jumlah yang banyak. Hal ini demi tegaknya keadilan dan kemaslahatan semesta (iqamat al-’adalah alijtima’iyyah wa al-mashlahat al-’ammah).

MUI juga menegaskan, mengingat grasi/ remisi hanya dilakukan oleh kepala Negara, dengan demikian fatwa ini khusus untuk kepala Negara, yang dikarenakan mempertimbangkan masyarakat luas.

Haram Grasi/ Remisi Aulia Pohan, Syaukani Hasan Rais, dan Artalyta Suryani

MUI di samping mengeluarkan fatwa haram pemberian grasi/ remisi kepada terpidana kasus korupsi, juga mengeluarkan fatwa haram secara khusus dengan adanya pemberian grasi/ remisi untuk tiga koruptor besar Aulia Pohan, Syaukani, dan Artalyta. Menurut MUI, secara hukum ketiga orang tersebut telah terbukti melakukan tindak korupsi. Sehingga apabila mengatakan mereka atau salah satu dari mereka tidak melakukan korupsi, itu termasuk tidak percaya dengan hukum, dan apabila yang mengeluarkan adalah seorang pejabat maka masuk kategori melawan hukum.

MUI mengeluarkan fatwa haram dengan dikeluarkannya grasi/ remisi kepada tiga koruptor besar tersebut, dalam penggondokannya tidaklah tergesa-gesa, karena sudah melalui mekanisme yang jelas, akurat, teratur, dan sangat-sangat dapat dipertanggungjawabkan di depan anggota MUI. Selain itu, ketua MUI secara pribadi juga menyesalkan dengan sikap presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengeluarkan grasi/ remisi kepada mereka, yang menurutnya sangat merusak asas demokrasi Indonesia yang mulai dibangun, serta merobek usaha pemerintah secara umum dalam pemberantasan korupsi di Indonesia yang bisa dikatakan belum berjalan ini.

Kembali diulang, ketua MUI memberikan penjelasan mengenai alasan kesehatan, seperti Syaukani, tidak bisa dijadikan alasan pembebasannya, karena apabila presiden murni menjalankan nuraninya, seharusnya para fakir-miskin dan kalangan tertindas dari dampak tindak korusi, itu yang lebih diutamakan, didahulukan mendapat “grasi/ remisi” (baca: pembebasan/ keringanan. Red) sebelum para koruptor. Apabila tidak demikian, sudah semestinya sikap presiden dipertanyakan dan harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat Indonesia. Secara etika kemanusiaan, presiden telah melanggar hak asasi kemanusiaan yang lebih besar.

MUI mengeluarkan fatwa ini, persis pukul 24. 00, melalui ketuanya, Wahyu NH Al_Aly di sekretariat Lawang Ngajeng. Wahyu NH Al_Aly juga memberikan informasi, bahwasanya majlis ukhuwah Indonesia (MUI), sedang menggodok hukum mengenai kasus Marzuki Alie sebagai ketua DPR akan pernyataannya mengenai Aulia bukan koruptor, dengan dilihat status dan peran Marzuki Alie saat itu. Tunggu….

__________________________________

Salam nurani….

Salam keindonesiaan….

Salam revolusi damai….

Wahyu NH. Al_Aly

(Pemuda Jalanan)

Tuhan Tak Mengabulkan 1 Juta Doa Manusia untuk Dosa Koruptor


LAWANG NGAJENG

Aktif, Kreatif, Progresif, Inovatif

Melihat seorang koruptor yang terbaring kaku, tak dapat melakukan aktifitas apapun, sebagai manusia saya tentu merasa kasihan dan sedih. Saya merasa iba melihat keadaan yang demikian. Terlebih lagi manakala saya melihat seorang koruptor yang meninggal dunia, saya benar-benar tak kuasa meneteskan air mata, mengkhayalkan kenyataan apa yang akan diterimanya di alam sana, karena itu hanya Tuhan saja yang mengetahui. Saya, termasuk manusia yang lain hanya bisa meraba melalui amal-amal orang tersebut, namun tidak dapat memastikannya. Manusia hanya mampu menilai perbuatan seseorang, melalui aturan-aturan Tuhan yang telah ditetapkan kepada manusia, seperti kitab suci dan Alhadits, dan Tuhan adalah Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Pasti. Tuhan pasti akan melaksanakan hukum-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan Alhadits, karena Tuhan tidak pernah berdusta.

Akan tetapi nurani saya sebagai manusia, manakala melihat ada seorang koruptor yang terbaring sakit, saya hanya bisa mendoakan agar orang tersebut lekas sembuh. Saya tidak dapat mendoakan kesalahan-kesalahan orang tersebut yang berkaitan dengan kedzolimannya terhadap orang lain, karena apabila saya mendoakan yang demikian, secara kasarnya saya telah melakukan kesalahan dengan mengintervensi Tuhan, yang padahal Tuhan sendiri telah jelas tidak akan mengampuni dosa seseorang yang berkenaan kesalahannya terhadap orang lain hingga orang yang didzoliminya tersebut memberikan ampunan terlebih dahulu kepadanya. Hal ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw yang tidak mau menyolati dan/atau mendoakan orang yang meninggal karena memiliki hutang dengan orang lain….

Dengan demikian, sakit separah apapun seorang koruptor, tidak akan menghapus kenyataan kedzoliman yang telah dilakukannya terhadap orang banyak, yang seharusnya dipertanggungjawabkannya. Jika seorang koruptor tersebut meninggal sebelum mempertanggungjawabkannya, maka ada dua pihak yang wajib menyelesaikan masalah tersebut, yaitu pihak keluarganya dan pemerintah. Tidak ada alasan meninggalnya seorang koruptor, kesalahan-kesalahannya ditutup begitu saja. Justru, apabila melihat secara kemanusiaan dan agama, sangat kasihan seorang koruptor yang meninggal dunia di alam barzah serta di alam akherat kelak, apabila kesalahan-kesalahannya tidak terselesaikan dan tidak ada yang menyelesaikannya. Melalui ungkapan yang berbeda, apabila kita menuntut pemerintah agar menyelesaikan kasusnya, tanpa peduli koruptor tersebut sedang sekarat ataupun telah mati, kita berarti membantu koruptor tersebut dari kemungkinan siksa di alam barzah dan di alam akherat yang sebagaimana tercantum dalam ayat-ayat suci, di sana siksanya sangat-sangat pedih daripada siksa dunia. Serta, orang yang telah mati tidaklah membutuhkan kehormatan lagi, melainkan menanti kesalahan-kesalahannya dapat tertolong….

Karena itu juga, sehingga agama membolehkan seseorang yang teraniaya/ terdzolimi oleh orang lain untuk mencaci-makinya, menghinanya, serta memintanya agar mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahannya. Secara khusus, orang yang terdzolimi itu boleh menyebarluaskan kesalahan-kesalahannya kepada orang lain selama untuk mencari dan meraih keadilan jika orang yang mendzoliminya tidak kunjung bertanggungjawab, dan itu dalam agama bukan termasuk kategori gosip. Bahkan, bagi orang lain, apabila melihat saudaranya terdzolimi, apabila diminta menolongnya, wajib bagi orang yang diminta itu terjun memberikan bantuan semampunya. Serta, haram hukumnya seseorang menyalahkan atau mengganjal orang lain yang sedang meminta haknya yang terdzolimi, misalnya, menyalahkan rakyat yang sedang menjerit-jerit atau mencaci-maki penguasa yang mendzoliminya agar mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Mengulangi kembali, doa dari beratus-ratus orang, beribu-ribu orang, berjuta-juta orang, dan meskipun doa itu diulang bermilyar-milyar kali, selama orang yang terdzolimi belum terpenuhi haknya hingga belum mengampuni koruptor tersebut, Tuhan tidak akan menerimanya. Sekaligus, orang yang “memaksa” Tuhan agar mengampuninya, maka orang tersebut secara kasar telah melakukan intervensi terhadap keadilan Tuhan yang telah disampaikan melalui ayat-ayat suci-Nya. Maka, apabila kita berniat dan beramal untuk membantu koruptor yang sekarat atau yang telah mati tersebut, jalan yang paling baik adalah mendesak pemerintah agar mengusut secara tuntas atas kedzolimannya. Dengan demikian, kita telah menolong dua pihak sekaligus, koruptor yang sekarat atau mati dan rakyat. Termasuk di dalamnya, misalnya, mendesak mengusut kasus mantan Presiden Soeharto. Bila pemerintah tidak melakukannya, itu berarti pemerintah juga telah mendzolimi rakyatnya dengan jalan yang berbeda….

Terakhir, Tuhan memberikan kepada kita hati dan pikiran agar kita mendayagunakannya, bukan justru menutupinya dengan perasan-perasaan dan praduga-praduga yang tanpa diikuti dengan Ilmu, sehingga akan tersesat dalam hutan kesalahan yang tanpa disadarinya, dan dianggapnya itu suatu kebenaran. Terlebih lagi, hingga menyalahkan orang-orang yang melangkah melalui dasar Ilmu dan nurani. Shodaqallahul adzim. Wallahu a’lam….

_______________________________

Mari tolong rakyat yang tertindas….

Mari bantu para koruptor dari kemungkinan siksa api neraka…

Mari, saling bantu membantu….

Salam revolusi damai…

Wahyu NH Al_Aly

(Pemuda Jalanan)